Kamis, 11 April 2013

HERBERT SPENCER (teori sosiologi klasik)



1.    Mengenai Teori Herbert Spencer
Spencer sering disamakan dengan Comte dalam arti pengaruh mereka terhadap perkembangan teori sosiologi (J. Turner dalam G. Ritzer dan D. J. Goodman 2010:49), namun ada beberapa perbedaan penting di antara mereka. Misal, Sulitnya menggoplongkan Spencer sebagai pemikir konservatif karena sebelumnya, Spencer lebih tepat dipandang beraliran politik liberal dan Ia tetap memelihara unsur-unsur liberalisme di sepanjang hidupnya. Namun pada akhirnya, pemikiran Spencer tumbuh semakin konservatif selama hidupnya, dan pengaruhnya mendasarnya, seperti Comte (G. Ritzer dan D. J. Goodman, 2010:49). Salah satu pandangan liberalnya yang lebih sesuai dengan konservatismenya adalah penerimaanya atas doktrin laissez-faire. Ia merasa bahwa Negara tak harus mencampuri persoalan individual kecuali dalam fungsi yang agak pasif untuk melindungi rakyat. Ia tak tertarik pada reformasi sosial. Ia menginginkan kehidupan sosial berkembang bebas dari kontrol eksternal.
Inilah kekhasan Spencer sebagai seorang Darwinis Sosial (G. Jones dalam G. Ritzer dan D. J. Goodman, 2010:49). Dengan demikian ia menganut pandangan evolusi yang berkeyakinan bahwa kehidupan masyarakat tumbuh secara progresif menuju keadaan yang makin baik dan karena itulah kehidupan masyarakat harus dibiarkan berkembang sendiri, lepas dari campur tangan yang hanya akan memperburuk keadaan. Ia menerima pandangan bahwa institusi sosial, sebagaiman tumbuh-tumbuhan dan binatang, mampu beradaptasi secara progresif dan positif terhadap lingkungan sosialnya. Ia juga menerima pandangan Darwinian bahwa proses seleksi alamiah, “Survival of the fittest”, juga terjadi dalam kehidupan sosial (istimewanya, justru Spencerlah yang mengungkapkan survival of the fittest itu sebelum beberapa setahun sebelum karya Darwin mengenai seleksi alamiah muncul). Konsep ini berarti bahwa, jika tidak diganggu oleh intervensi dari luar, individu yang layak akan bertahan hidup dan berkembang, sedangkan individu yang tak layak akan punah. Perbedaan lainnya adalah bahwa Spencer memusatkan perhatian pada individu, sedangkan Comte menekankan pada unit yang lebih besar seperti keluarga.
Meski perbedaan penting antara Spencer dan Comte, namun kesamaan orientasi atau setidaknya kesamaan interpretasi mereka terbukti lebih penting ketimbang perbedaan mereka bagi perkembangan teori sosiologi. Comte, Spencer, Durkheim dan yang lainnya sama-sama berkomitmen terhadap ilmu sosiologi (Haines, dalam G. Ritzer dan D. J. Goodman, 2010:50) yang menjadi prespektif sangat menarik bagi teoritisi awal. Pengaruh lain karya Spencer yang sama dengan Comte dan Durkheim adalah kecenderungannya melihat masyarakat sebagai organism. Dalam hal ini Spencer meminjam prespektif dan konsepnya dari biologi. Ia memusatkan perhatian pada struktur masyarakat secara menyeluruh, antarhubungan bagian-bagian masyarakat dan kaitan fungsi bagian-bagian satu sama lain maupun pada system sebagai suatu keseluruhan.
Seperti Comte, Spencer mempunyai konsep evolusi tentang perkembangan historis. Namun, ia mengkritik teori evolusi Comte dengan beberapa alasan. Khususnya ia menolak hukum tiga tingkatan perkembangan cara berpikir ala Comte. Ia mengatakan Comte menjelaskan evolusi dalam dunia gagasan, dalam artian perkembangan intelektual. Sebaliknya, Spencer berupaya membangun teori evolusi dalam dunia materi, dunia nyata.
Menurut Spencer, evolusi menjadi prinsip umum semua realitas: alam dan social. Adnya sifat umum ini adalah karena realitas pada dasarnya adalah material, terdiri dari zat, energy, dan gerakan. Evolusi didefinisikan sebagai perubahan dari homogeneitas tak beraturan ke heterogenitas yang logis, yang diikuti kehilangan gerak dan integrasi zat (Spencer 1972: 71 dalam Sztompka, 2008: 119)
Evolusi berlangsung melalui deferensiasi structural dan fungsional sebagai berikut (Spencer 1972: 39 dalam Sztompka, 2008: 119):
§  Dari yang sederhana menuju ke yang kompleks
§  Dari tanpa bentuk yang dapat dilihat keterkaitan bagian-bagian
§  Dari keseragaman, homogenitas ke spesialisasi, heterogenitas
§  Dari ketidaksetabilan ke kesetabilan
Teori evolusi adalah mungkin untuk mengidentifikasi dua prespektif evolusioner utama dalam karya Spencer (Haines dalam G. Ritzer dan D. J. Goodman, 2010:50). Pertama, teorinya terutama berkaitan dengan peningkatan ukuran (size) masyarakat. Masyarakat tumbuh melalui perkembangbiakan individu dan penyatuan kelompok-kelompok (compounding). Peningkatan ukuran masyarakat menyebabkan strukturnya makin luas dan makin terdiferensiasi serta meningkatkan diferensiasi fungsi yang dilakukannya di samping pertumbuhan ukurannya, masyarakat berubah melalui penggabungan, yakin makin lama makin menyatukan kelompok-kelompok yang berdampingan. Dengan demikian Spencer berbicara tentang gerak evilusioner dari masyarakat yang sederhana ke penggabungan dua kali lipat (doubly-copund) dan penggabungan tiga kali lipat (trebly-compound).
Spencer juga menawarkan teori evolusi dari masyarakat militant ke masyarakat industry. Pada mulanya, masyarakat militan dijelaskan sebagai masyarakat yang terstruktur gana melakukan perang, baik yang bersifat defensive maupun ofensif. Walaupun Spencer kritis terhadap peperangan, namun ia menduga pada periode awal peperangan burfungsi mengumpulkan masyarakat menjadi kumpulan masyrakat baru dengan kuantitas yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat industry. Bgaimanapun juga, sejalan dengan semakin tumbuhnya masyarakat industry, maka fungsi perang sebagai agen perubahan berakhir dan berubah menjadi penghambat proses selanjutnya dari evolusi. Masyarakat industry didasarkan pada persahabatan, tidak egois elaborasi spesialisasi, penghargaan terhadap prestasi. Mayrakat sperti ini disatukan oleh kontak relasi sukarela dan yang lebih penting lagi, kualitas moral yang sama. Peran pemeritah hanya dibatasi dan difokuskan pada apa yanag seharusnya tidak dilakukan masyrakat. Tidak diragukan lagi bahwa masyarakat industry modern memiliki tingkat agresivitas jauh lebih rendah dibandingkan pendahulu mereka yang militant. Walaupun Spencer melihat evolusi umum yang mengarah kepada pembentukan masyarakat industry, akan tetapi ia juga mengakui adanya kemunduran periodic kepada masyarakat yang lebih agresif dan militant.
Dalam tulisannya mengenai etika dan politik, Spencer mengemukakan gagasan evolusi social yang lain. Di satu sisi ia memandang masyarakat berkembang menuju ke keadaaan yang ideal atau sempurna. Di sisi lain ia menyatakan bahwa masyarakat yang paling mampu menyesuaikan diri dengan lingkunganlah yang akan bertahan hidup (survive), sedangkan masyarakat yang tak mampu menyesuaikan diri masyarakat secara keseluruhan. Jadi spencer mengemukakan seperangkat gagasan yang kaya dan ruwet. Mula-mula gagasannya menikmati sukses besar, tetapi kemudian ditolak selama beberapa tahun, dan baru belakangan ini telah hidup kembali dengan munculnya teori sosiologi neo.

2.    Kritikan-Kritikan Terhadap Teori-Teori Spencer
Menurut Martin (2010), Spencer sangat jarang untuk membaca karya orang lain. Mungkin membaca tapi hanya untuk sekedar mencari pembelaan atas karyanya. Menurut Spencer, ide-idenya muncul tanpa sengaja dan secara keseluruhan adalah hasil pemikirannya sendiri. Karena baginya jika ingin membaca dan belajar dari orang lain itu akan mempengaruhi kemurnian dari pemikirannya dan hanya akan merusak karyanya. Ini yang mendasari pemikiran Spencer mengenai evolusi sosial-nya yang menurutnya perubahan itu harus secara alami dan tidak boleh ada intervensi dari orang lain. Ini juga yang akhirnya mendasari kritik terbesar dalam karya Spencer, karena tidak empiris dan tidak ilmiah.
Kelemahan lain dari teori evolusi Spencer adalah ketika ia memasukkan prinsip-prinsip biologi kedalam ilmu sosial, dan ini dilakukannya tanpa bukti yang jelas atau tidak bersifat empiris. Karena itulah analisis masyarakat Spencer lebih mirip dengan analogi daripada penjelasan pada masyarakat. Kelemahan tersebut dapat terlihat bahwa individu dapat berkembang menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini berarti teori Spencer tidak dapat berlaku pada tempat lain yang karakteristiknya berbeda. Sebagai contoh nyata pada kehidupan masyarakat Suku Badui di Jawa Barat. Perkembangan zaman membuat masyarakat disekeliling suku Badui berubah kearah modern. Jika merujuk pada teori Spencer berarti seharusnya suku Badui akan tereliminasi karena tidak dapat mengikuti perkembangan lingkungannya. Tetapi sebuah hal lain terjadi pada suku Badui dimana mereka tetap dapat hidup dengan caranya sendiri tanpa mengikuti perkembangan lingkungannya. Dalam lingkup yang lebih luas hal yang sama terjadi pada nagara Kuba. Walaupun mendapat intervensi dari Amerika sampai embargo dalam berbagai bidang, tetapi Kuba tetap bertahan tanpa harus mengikuti perkembangan linkungannya.

sumber:
George Ritzer & Douglas J. Goodman.2010.Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern.Kreasi Wacana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar